​Syarat "Mati": Sebuah Latihan Melepas Nafas

Pernahkah kita merenungkan satu perintah Allah yang sangat spesifik dalam Al-Qur'an? Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk hidup baik, tapi Allah memberikan "syarat" bagaimana kita harus mati: ​ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha haqqo tuqootihii wa laa tamuutunna illaa wa angtum muslimuun. "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali 'Imran [3]: 102) ​ Ayat ini adalah sebuah rambu-rambu. Jika mati adalah garis finish, maka "Muslim" adalah syarat mutlak untuk melintasinya dengan selamat. Namun, apa sebenarnya hakikat menjadi Muslim di detik terakhir itu? ​ Rantai Syarat Menuju Pulang ​Jika kita bedah secara mendalam, ada sebuah rantai spiritual yang harus kita jalin agar syarat "mati dalam keadaan muslim" itu terpenuhi: ​1. Menjadi Muslim (Berserah Diri) Secara etimologi, Muslim adalah pelaku dari Aslama—orang yang berserah diri secara total. Mati sebagai Muslim berarti mati dalam keadaan "titik nol", di mana tidak ada lagi ego, tidak ada lagi kepemilikan, hanya kepasrahan total kepada Sang Pencipta. ​2. Jalannya adalah Taqwa (Memelihara Diri) Bagaimana bisa berserah diri jika kita tidak waspada? Taqwa berasal dari akar kata Wiqayah, yang berarti menjaga atau memelihara. Dalam konteks ini, kita bertugas "menjaga" kesucian kontrak kita dengan Allah agar tidak ternoda oleh kelalaian dunia. ​3. Dasarnya adalah Iman (Ketenangan Batin) Taqwa mustahil ada tanpa Iman. Berasal dari kata Amana, yang berarti percaya sekaligus memberikan rasa aman. Orang yang beriman adalah mereka yang hatinya tenang karena yakin akan perlindungan Allah, sehingga saat maut menjemput, tidak ada ketakutan, yang ada hanyalah ketenangan (Mutmainnah). ​4. Pintunya adalah Syahadat (Penyaksian) Syarat mutlak iman adalah bersaksi. Namun, sebuah kesaksian menuntut adanya "Yang Disaksikan". Apa yang kita saksikan? Bukan sekadar kalimat di lisan, tapi menyaksikan kehadiran Allah dalam setiap detak jantung, setiap peristiwa, dan setiap hamparan alam semesta. ​ Akhlak: Wujud Nyata Penyaksian ​Penyaksian kita kepada Allah tidak bersifat abstrak. Kesaksian itu mewujud dalam Akhlak. Iman yang benar akan melahirkan manusia yang jujur, kasih, dan peduli. Tanpa perilaku (akhlak) yang baik, klaim keislaman kita hanyalah sebuah pengakuan tanpa bukti. ​Seseorang yang benar-benar "menyaksikan" kebesaran Allah tidak akan mungkin berlaku sombong atau menyakiti sesama, karena ia melihat "tanda-tanda" Tuhannya pada setiap makhluk. ​ Latihan Mati di Setiap Nafas ​Seringkali kita merasa mati adalah peristiwa masa depan yang jauh. Padahal, secara biologis dan spiritual, kita sedang latihan mati setiap saat. ​Saat menarik nafas: Kita diberi kehidupan, sebuah pinjaman kekuatan. ​Saat menghembuskan nafas: Kita sedang "mati" sejenak, melepas apa yang kita hirup, mengembalikan udara ke alam. ​ Itulah mengapa orang yang meninggal disebut telah "menghembuskan nafas terakhir". Hidup kita hanyalah kumpulan dari nafas-nafas ini. Jika kita terbiasa "berserah diri" (Muslim) pada setiap hembusan nafas hari ini, maka insya Allah, saat hembusan terakhir itu tiba, kita sudah tidak asing lagi dengan rasanya kembali kepada-Nya. ​ Mari kita jaga kualitas "penyaksian" kita hari ini melalui perbaikan akhlak, agar syarat mati itu terpenuhi dengan indah. ​Semoga Allah wafatkan kita dalam keadaan Husnul Khatimah. Aamiin.

Bagikan Tulisan Ini